Well, sebagai umat muslim beribadah tidak lagi hanya sebuah kewajiban, tetapi juga menjadi sebuah kebutuhan. Mengapa kebutuhan? Sebagai seorang makhluk yang diciptakan oleh Yang Maha Sempurna, Allah Swt, kita masih membutuhkan kasih sayang dari Pencipta kita, sama halnya sejak kecil kita membutuhkan kasih sayang kedua orang tua kita. Akan tetapi letak bedanya adalah Allah Swt tidak pernah berhenti memperhatikan kita dalam setiap hembusan napas kita, dalam setiap kedipan mata kita, dalam setiap aliran darah yang mengalir secara kontinu sepanjang hidup kita. Kita butuh kasih sayang Allah Swt, sebagai pemilik alam semesta dalam kehidupan kita, yang mempunyai kuasa atas segala keajaiban di alam semesta, dan yang berhak menciptakan atau memusnahkan semua bentuk di alam semesta ini sebagai sumber kekuatan hidup kita, agar tidak terombang-ambing tanpa arah dan melakukan sesuatu hal yang sia-sia yang menurut kita baik, padahal kenyataannya tidak.
Seharusnya kita bersyukur bagi orang-orang Islam, masih ada tempat untuk mencurahkan keluh kesah kita, untuk memohon atas semua keinginan dan cita-cita kita ketika tak ada seorang pun lagi yang bisa kita percaya, ketika tak ada lagi yang menemani kita di kala hidup seorang diri, dan saat tak ada seseorang yang menyayangi kita sepenuh hati. Siapakah itu? tidak lain adalah Allah Swt yang menjadi tujuan hidup tiap Muslim. Yakinlah bahwa Allah Swt pasti memperhatikan, menyayangi, dan memuliakan hamba-Nya yang senantiasa mengingat-Nya dalam lafadz dzikir ataupun dalam hati. Semakin kita membutuhkan Allah Swt dan mendekatkan diri kepada-Nya maka kita akan senantiasa dimuliakan oleh-Nya.
Akan tetapi untuk menjadi seorang hamba yang dimuliakan oleh Allah Swt tidak serta merta kita hanya beribadah dan senantiasa mengingat-Nya, tetapi ada suatu tahapan-tahapan yang perlu kita lakukan sesuai dengan pedoman (Al-Qur'an) agar menjadi seorang hamba yang dimuliakan oleh Allah Swt. Dalam QS Al-Fuqan ayat 63-74, Allah swt menjelaskan tentang ciri-ciri hamba yang dimuliakan Allah, antara lain :
Pertama, Rendah hati, tidak berlaku sombong, tidak karena kebetulan diberi kekayaan, kecantikan, kedudukan, atau kepandaian kemudian menolak kebenaran yang datang dari Allah dan menghina kepada orang lain. Ia sadar bahwa segala yang ia miliki hanyalah titipan dari Yang Maha Pengasih, ia juga sadar bahwa disamping kelebihan, banyak juga kekurangan dan kealfaan dalam dirinya.
